Rabu, 30 Januari 2013

Aneurisme(pembengkakak pembuluh otak) Penyebab Kematian Mendadak Pada Usia Produktif

Kematian mendadak pada orang muda, selain akibat jantung dan stroke, bisa juga karena pecahnya pembuluh darah otak. Karena itu orang muda perlu check up otak seteliti mungkin. Untuk mencegah terjadinya kematian tiba-tiba pada usia 30-50 tahun akibat pecahnya pembuluh darah di kepala yang dalam dunia kedokteran disebut aneurisme.


Kematian mendadak pada orang muda, selain akibat jantung dan stroke, bisa juga karena pecahnya pembuluh darah otak. Karena itu orang muda perlu check up otak seteliti mungkin. Untuk mencegah terjadinya kematian tiba-tiba pada usia 30-50 tahun akibat pecahnya pembuluh darah di kepala yang dalam dunia kedokteran disebut aneurisme.

Hal itu dikemukakan dr. Eka J Wahjoepramono Spesialis Bedah Saraf di sela-sela acara Recent Issues on Neuroscience yang digelar Rumah RS Siloam Gleneagles (RSGG) dan National Neuroscience Institute Singapure (NNI).
Aneurisme merupakan penyakit pembuluh darah otak yang melembung seperti balon, dan akan pecah bila tekanan darah di dalam pembuluh darah tersebut terlalu kuat. Eka menegaskan pembuluh darah yang melembung itu kecil sekali. ?Kalau pecah, akan muncul perdarahan, lalu masuk ke seluruh jaringan otak sampai menimbulkan malapetaka hebat dan suatu waktu bisa berupa kematian,?
Otak merupakan salah satu organ yang bila dilihat ukurannya sangatlah tidak sebanding dengan ukuran tubuh manusia yang besar, karena hanya sekitar 2% dari berat tubuh manusia. ?Namun begitu perannya begitu besar sebagai motor penggerak yang mengontrol semua pekerjaan sistem syaraf yang ada dalam tubuh manusia,?kata Eka.
Bukan itu saja, berbeda dengan sel-sel yang lain, pertumbuhan sel otak hanya dapat terjadi sekali seumur hidup, yaitu ketika berada di dalam kandungan hingga usia tiga tahun. Sel-sel otak yang mati tidak akan pernah mengalami regenerasi atau pertumbuhan kembali. Apabila satu saja dari jaringan otak tersebut mengalami gangguan, seperti stroke atau lainnya, otomatis kinerja seluruh tubuh pun akan terganggu. Dengan demikian, mereka yang mengalami gangguan pada jaringan otak sudah pasti akan mengalami berbagai gangguan kesehatan.
Ditambahkanya, sebagai organ vital, otak juga turut menentukan masa depan bangsa, untuk itu kesehatan otak merupakan hal penting yang harus mendapatkan perhatian yang serius.
Berkembangnya jenis-jenis penyakit yang mengancam jiwa manusia pada dasawarsa terakhir ini, menuntut para ahli medis untuk terus berupaya melakukan berbagai macam terobosan baru untuk menangani kasus-kasus tersebut, misalnya saja pelebaran pembuluh darah pada satu wilayah atau yang lebih dikenal dengan aneurisma.
Ia melihat kematian mendadak atau koma sebagai gejala aneurisme yang sudah terlalu parah. Di Amerika saja, ulasnya, kematian tiba-tiba tersebut mencapai sekian puluh persen. Namun, apabila masih dalam stadium dini, jelasnya, gangguan itu ditandai sakit kepala di daerah mata, kejang-kejang, atau kesadarannya sedikit menurun. Jika lebih berat lagi, penderita sampai mengatakan dirinya tidak pernah sakit kepala seperti sekarang ini.

Belum Diketahui Penyebabnya
Meskipun hingga saat ini belum diketahui secara pasti penyebab timbulnya penyakit aenurisme ini, tetapi telah terbukti apabila tidak ditangani secara serius dapat mengakibatkan kematian bagi penderitanya. Terlebih bila yang dibicarakan adalah kasus aneurisme pada otak, sudah pasti hal ini tidak dapat dianggap remeh.
Khusus untuk keadaan penyakit yang masih awal, yaitu pembengkakan pembuluh darah yang belum parah dan tidak terlalu parah lanjutnya, nyawa pasien bisa tertolong asalkan dioperasi dengan segera, atau intervensi lainnya dengan tingkat keberhasilannya hampir mencapai 100%.
Tapi, kata Eka, pemicu terjadinya aneurisme tidak pasti, termasuk akibat kelainan bawaan berupa tipisnya dinding pembuluh darah otak. Bahkan orang yang sedang diam pun dapat terkena serangan penyakit ini. Ketika seseorang tadi terus tumbuh dan menjadi dewasa, tambah Eka, biasanya akan diikuti dengan menipisnya dinding-dinding pembuluh darah di otak, selain itu aliran darah yang mengalir ke otak pun semakin banyak hingga dinding tipis di otak tersebut membesar.
Cuma disayangkan, kondisi itu sulit dideteksi , kecuali dengan Magnetic Imaging resonance (MRI) bila pembesaran sampai 1 Cm lebih.?Repotnya, biasanya kalau belum seukuran ini, tidak ada gejala dan baru ketahuan waktu pecah.
Dari pengalamannya menangani 60 kasus aneurisme yang baru mulai di RSSG, Eka menilai pasien wanita dan pria berimbang, umurnya 30-50 tahun. Diperkirakan, mereka tengah aktif-aktifnya, sedangkan pembuluh darah otaknya sedang tipis.
Menurutnya, pencegahan tidak bisa dilakukan, Ia menyarankan seseorang menjalani Check up otak seteliti mungkin dengan MRI dan apabila hasilnya positif, dipakai Angiografi untuk memeriksa pembuluh darah.
Berbeda dengan stroke, yaitu adanya gangguan pada fungsi otak yang menyebabkan tersumbatnya pembuluh darah otak yang juga bisa menyebabkan pecahnya pembuluh darah otak, sehingga menyebabkan kematian dan kelumpuhan sebelah pada organ tubuh penderitanya. Pecahnya pembuluh darah otak karena aneurisma disebabkan lemahnya pembuluh darah otak penderita. Tapi akibat yang ditimbukan lebih parah dari stroke.
Untuk aneurisme ringan umumnya bisa ditanggulangi dengan cara tindakan operasi. Tapi umumnya mereka yang terkena aneurisma akan mengalami kematian. Sebagai contoh, dari 60 kasus aneurisma yang ditangani RSGG satu orang yang ditemukan belum pecah dan dapat ditangani dengan baik bahkan bisa kembali menjalani aktivitas semula. Sedangkan 59 lainnya sudah pecah, satu diantaranya meninggal karena komplikasi dengan oenyakit lain, 30 lainnya dengan hasil yang cukup baik bahkan bisa melakukan aktivitas biasa meskipun agak menurun dan selebihnya meninggal dunia.
Disinggung tentang adanya faktor keturunan, Dr Eka menjelaskan, sangat jarang kasus aneurisme yang ditemukan secara turun temurun atau familiar, kebanyakan terjadi secara spontan, salah satunya karena hipertensi, anemia, perokok, alkohol, yang bisa melemahkan lapisan pembuluh darah di otak.
Embolisasi
Namun spesialis radiologi dr Prijo Sidipratomo menganggap, tidak semua kasus aneurisme bisa diintervensi dengan operasi misalnya, karena keadaan umum penderita jelek sekali.
Karena itu, tandasnya, salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan cara embolisasi dengan cara menyumbat darah yang terkena gangguan.?Kita masukkan bahan untuk menyumbat dengan kateter kecil sekali ke daerah sasaran.

ciri-ciri pembengkakan pembuluh otak

Otak merupakan salah satu organ vital yang mengatur hampir seluruh aktivitas dari organ yang ada di tubuh. Tapi beberapa hal diketahui bisa membuat otak jadi membengkak. Apa saja tanda-tanda otak bengkak?

"Otak yang membengkak bisa disebabkan oleh faktor-faktor diluar otak maupun dari otak itu sendiri," ujar Dr Wismaji Sadewo disela-sela acara promosi doktornya dengan disertasi berjudul Petanda Stres Oksidatif Pada Peningkatan Tekanan Intra Kranial di ruang Sena Pratista FKUI, Senin (18/7/2011).

Dr Wismaji menuturkan penyebab dari otak yang membengkak bisa karena kekurangan oksigen dan darah yang mengalir ke otak atau bisa juga karena faktor otak itu sendiri misalnya otak yang mengalami memar akibat cedera atau trauma.

Aliran darah dan oksigen yang terhambat bisa disebabkan oleh beberapa faktor yaitu:


  1. Adanya tumor
  2. Kelainan pembuluh darah
  3. Gangguan aliran cairan otak
  4. Cedera akibat kecelakaan

Asupan oksigen dan darah yang kurang ini mengakibatkan peningkatan tekanan intra kranial yang jika tidak ditangani dengan baik bisa menyebabkan hipoksia akut dan berakibat gangguan seluruh sistem seluler.

"Hipoksia murni juga bisa terjadi akibat keracunan gas CO di dalam otak yang membuat otak membengkak," ujar dokter yang lulus dari program dokter spesialis bedah saraf FKUI pada tahun 2005.

Dr Wismaji menuturkan gejala yang timbul dari pembengkakan otak ini adalah:

  1. Sering sakit kepala
  2. Mual
  3. Muntah
  4. Menurunnya kesadaran dan bahkan bisa pingsan.

Untuk menangani peningkatan tekanan intra kranial di otak bisa dilakukan beberapa hal tergantung dari pola peningkatan tekanan tersebut yaitu:
1. Jika ringan maka diberikan obat-obatan dan disaraankan posisi tidurnya tegak 30 derajat sehingga memudahkan cairan keluar dari otak.

2. Jika sedang biasanya diberikan obat dan tindakan yang agak sedikit agresif yaitu memberikan obat diuretik untuk membantu mengeluarkan cairan dari dalam tubuh.

3. Melakukan tindakan hiperventilasi dengan cara menidurkan pasien dan diberikan alat bantu pernapasan.

4. Pasien dibuat koma sehingga metabolismenya menurun, kondisi ini akan membuat kebutuhan darah dan oksigennya sedikit sehingga bisa tercukupi. Karena jika metabolismenya tinggi maka kebutuhan darah dan oksigen juga meningkat.

5. Melakukan operasi untuk membuka tulang tengkoraknya sehingga otak nantinya hanya akan dilapisi kulit. Jika pembengkakan otak sudah berkurang maka tulang tersebut akan dipasangkan kembali.

"Bagi orang yang berisiko mengalami peningkatan tekanan intra kranial biasanya tidak boleh mengejan, batuk atau bersin. Karena kondisi ini bisa meningkatkan tekanan intra kranial yang jika terjadi secara drastis bisa menyebabkan kematian," ungkapnya.